Sabtu, 17 Mei 2014

MGMP PAI TAHUN 2008

http://sekolahorangtua-inhar.blogspot.com/2008/11/musyawarah-guru-mata-pelajaran-mgmp.html

Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Rayon 04 Kab. Tangerang

Dari kanan : Pak Faturrahman, Pak Nawawi, Pak Fauzi, dan Pak Faqih .

Periode tahun 2008-2009, Sanggar Pendidikan Agama Rayon 04 Kabupaten Tangerang adalah di SMP IT Insan Harapan. Anggotanya sekitar 30 sekolah.
Acara MGMP PAI alhamdulillah dapat diselenggarakan untuk yang ke dua kalinya. Sebenarnya p
ada tanggal 20 Nopember 2008 tersebut INHAR punya 3 (tiga) acara sekaligus, sehingga Kepala Sekolah harus membagi waktu untuk hadir di tiga tempat. Guru-guru Inhar juga berbagi tugas :
  1. Penandatanganan MoU SMP IT Insan Harapan dan Bank Syariah Mandiri (Ibu Yunia)
  2. MGMP Pendidikan Agama Rayon 04 (Bapak Fauzi, Bapak Badru, dan Bapak Entis)
  3. Seminar Pendidikan dalam memperingati Hari Guru Nasional di Gedung Dewan Riset Nasional (DRN) Puspiptek (Ibu Dina dan Bapak Badru).
Pada pertemuan ke dua ini, acara dibuka oleh Bapak Nindin (Ketua Gugus / Rayon 04, Kepala SMP Negeri 3 Serpong), karena Ibu Rita masih berada dalam rangkaian acara MoU dengan BSM. Kemudian dilanjutkan penyampaian sharing materi "Menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)" oleh Bapak Faqih dari SMP I Cikal Harapan. Selanjutnya forum membahas tentang pedoman membuat kisi-kisi soal Ulangan/Ujian yang disampaikan oleh Bapak Faturrahman dari SMP I Al Azhar. Acara ini dipandu moderator Bapak Fauzi dari SMP IT Insan Harpan serta pengarah Bapak Nawawi dari SMP Negeri 2 Cisauk / Puspiptek.
Pada forum MGMP ini para peserta tampak antusias ketika ada lontaran bahwa sebaiknya MGMP PA imenyusun buku panduan praktis untuk siswa se-Rayon 04 Kabupaten Tangerang. Lontaran ini dilatarbelakangi karena adanya perubahan antara KTSP dan KBK dalam standar kompetensi lulusan yang dikeluarkan Departemen Agama untuk Mata Pelajaran Agama Islam.

Rabu, 09 Desember 2009

MUHARRAM BULAN SUCI UMMAT


MUHARRAM BULAN SUCI UMMAT

dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.
(Al Isroo' : 12)

“Selamat tahun baru Islam, 1 Muharram 1431 H, kullu ‘aam wa antum bikhair,Taqobballahu Minna wa Minkum, Semoga tahun-tahun kita penuh kebaikan.” Amin Ya Rabbal ’Alamin
Bulan Muharam, bulan pertama dalam kalender Hijriah. Tahun hijriyah mulai diberlakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Selain Umar, orang yang berjasa dalam penanggalan Tahun Hijriyah adalah Ali bin Abi Thalib. Dialah yang mencetuskan pemikiran agar penanggalan Islam dimulai penghitungannya dari peristiwa hijrah, saat umat Islam meninggalkan Makkah menuju Yatsrib (Madinah).
Para ahli membicarakan darimana dimulainya tahun Islami. Hal ini terjadi kurang lebih pada 16 H atau 17 H. maka sempat muncul berbagai pendapat, di antaranya:
1) Dihitung dari kelahiran Rasulullah.
2) Dihitung dari kematian beliau.
3) Dihitung dari hijrahnya beliau.
4) Dihitung sejak kerasulan beliau.
perdebatan kembali muncul, setelah ditentukannya awal perhitungan tahun Islam.
1) Rabiul awwal, karena mulai di perintahkannya Hijrah
2) Ramadhan, Awal turunnya Al Qur’an
3) Muharram, Bulan inilah yang di sepakati oleh Sahabat besar.
Bulan ini termasuk salah satu dari keempat bulan haram sebagaimana difirmankan Allah SWT
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram[640]. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri[641] kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.(At Taubah : 36)
Ada empat bulan yang dimuliakan Allah swt. Yaitu, Bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Bulan Rajab. Di bulan-bulan ini umat manusia dihimbau untuk tidak melaksanakan pertumpahan darah. Dan bagi umat muslim, bulan-bulan ini dianjurkan untuk meningkatkan taqarrub ilallah, mendekat kepadaNya.
Keutamaan Muharam
- قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِيْنَةَ فَرَأَى اليَهُوْدَ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاء فَقَالَ:ماَ هَذَا؟ قَالُوْا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوْسَى. قَالَ: فَأَناَ أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَر َبِصِيَامِهِ (Shahih Bukhari No 1900 )
- Pada awalnya, puasa 'aasyuura hukumnya wajib.
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ. وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيْضَةَ، صَلاَةُ اللَّيْلِ
- "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Muharam, sedang salat yang paling afdal sesudah salat fardu adalah salat malam."
(HR Muslim)
- Abu Qatadah berkata, Rasulullah saw. Bersabda, "Puasa 'aasyuura menghapus dosa satu tahun, sedang puasa arafah menghapus dosa dua tahun." (HR Muslim, Tirmizi, Abu Daud).
Imam Nawawi ketika menjelaskan hadits di atas beliau berkata: “Yang dimaksud dengan kaffarat (penebus) dosa adalah dosa-dosa kecil, akan tetapi jika orang tersebut tidak memiliki dosa-dosa kecil diharapkan dengan shaum tersebut dosa-dosa besarnya diringankan, dan jika ia pun tidak memiliki dosa-dosa besar, Allah akan mengangkat derajat orang tersebut di sisi-Nya.”
- Tidak berbuat dzalim pada bulan ini, baik yang kecil maupun yang besar. Allah berfirman, ” janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu. (QS. at-Taubah: 36)

- Ibnu Rajab al-Hambali mengatakan, Muharam disebut dengan syahrullah memiliki dua hikmah.
Pertama, untuk menunjukkan keutamaan dan kemuliaan bulan Muharam.
Kedua, untuk menunjukkan otoritas Allah dalam mengharamkan bulan Muharam. Pengharaman bulan ini untuk perang adalah mutlak hak Allah saja, tidak seorang pun selain-Nya berhak mengubah keharaman dan kemuliaan bulan Muharam.
Pada zaman Rasul Sallallahu ’alaihi Wa sallam orang Yahudi berpuasa di karenakan memuliakan Nabi Musa dari kejaran Fir’aun.

Hikmah Tahun Baru Islam:
- Merancang Hidup Lebih Baik
- Menyambung tali silaturahmi
- Ladang amal baik, sebagaimana sahabat Anshor kepada Muhajirin
- Awal persaudaraan dalam Islam dan penguat persaudaraan.
- Perbaiki hijrah dan niat karena Allah Subhanahu wa Ta’ala

Selasa, 08 Desember 2009

Shalat Membantu Penderita Disfungsi Ereksi


Shalat Membantu Penderita Disfungsi Ereksi
4 Desember 2009


Sebuah studi ilmiah di Malaysia mengungkap manfaat dari ibadah shalat, tidak hanya meningkatkan iman seseorang, tapi melakukannya dengan gerakan yang benar juga bermanfaat untuk kesehatan mental dan fisik, termasuk menyembuhkan disfungsi ereksi.



Penelitian ini diketuai Kepala Biomedical Engineering Department di Universitas Malaya, Prof Madya Dr Fatimah Ibrahim beranggotakan Prof. Dr. Wan Abu Bakar Wan Abas dan Ng Siew Cheok. Menurut Fatimah Ibrahim, berdasarkan hasil studi mereka menemukan shalat dapat membantu pasien penderita disfungsi ereksi.

Dari hasil studi peneliti sebelumnya Marijke Van Kampen, Dr. Fatimah mengatakan olahraga untuk otot bawah panggul bisa memperlancar sirkulasi darah dan mengurangi gejala penyakit disfungsi ereksi.

Dr. Fatimah mengatakan, gerakan shalat juga bisa mengurangi derita sakit punggung, terutama bagi ibu hamil. Studi itu dilakukan dengan melibatkan pasien penderita sakit punggung biasa dan ibu hamil dari komunitas Melayu, India dan China.

Posisi Rukuk
Kajian akan dilakukan atas gelombang otak yang dihasilkan ketika Salat pada setiap posisi seperti rukuk, sujud, I’tidal dan duduk saat tahiyat.

Dalam kajian ini isyarat otak subjek Muslim yang bershalat direkam dan dianalisis, di mana dua kajian saintifik dilakukan yaitu pada perobahan isyarat otak saat tuma’ninah dan kesan shalat kepada isyarat otak.

Hasilnya, kata Siew Cheok, didapati shalat menghasilkan keadaan tenang kepada otak manusia dan menunaikan shalat amat baik dalam mengekalkan tahap kestabilan mental dan emosi seseorang.

Posisi rukuk dan sujud bisa digunakan sebagai terapi, karena gerakan itu membuat tulang belakang menjadi rileks dan mengurangi tekanan pada syaraf tulang belakang.

Dalam penelitian Prof Dr Wan Azman Wan Ahmad, konsultan spesialis jantung di UM Medical Centre, menemukan bahwa detak jantung dapat berkurang kecepatannya hingga 10 kali dalam satu menit pada posisi sujud, di mana kening, hidung, tangan dan lutut kaki menyentuh tanah.

Tahajjud
Sebelum temuan ini, Dr. Mohammad Sholeh asal Indonesia melakukan penelitian hubungan shalat tahajjud dan dampaknya bagi kesehatan.

Penelitian menunjukkan, shalat tahajjud yang dilakukan secara ikhlas dan kontinyu, ternyata mengandung aspek meditasi dan relaksasi sehingga dapat digunakan sebagai coping mechanism atau pereda stres yang akan meningkatkan ketahanan tubuh seseorang secara natural.(int/hpz).
http://www.riaupos.com/berita.php?act=full&id=9577&kat=5

Jumat, 29 Mei 2009

Panduan Untuk Para Guru, Pendidik dan Pendakwah

Dalam Al Qur’an Allah berfirman :
Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasehat yang baik dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang baik. (QS An-Nahl : 125).
Ayat di atas menjelaskan bahwa perlunya para guru, pendidik dan pendakwah tidak hanya memberi atau menyampaikan ilmu saja tetapi diharapkan hingga menjadikan murid berusaha sungguh-sungguh untuk membuat perubahan nyata dalam diri mereka. Bukan mudah untuk menjadikan didikan yg berkesan. Kalau sekadar berdakwah secara umum semua orang dapat mengerjakannya.
Ayat di atas memberikan panduan bagi kita supaya dakwah atau didikan berkesan, maka paling tidak ada 3 asas yang perlu dimiliki oleh guru, pendidik dan pendakwah. Tiga asas ini yang sangat penting yaitu : hikmah, nasehat yang baik dan berdiskusi dengan cara yang baik.
1. ILMU DAN HIKMAH
Mengapa dalam ayat tersebut Allah tidak berfirman sebagai berikut :
hendaklah kamu menyeru kepada jalan Tuhanmu dengan ilmu?
Sebab mendidik hanya dengan ilmu saja tidak akan memberi kesan dan perubahan pada sasaran dakwah atau murid.
Kita dapat lihat realitasnya dalam masyarakat. Begitu meriahnya majelis taklim, pengajian di kantor-kantor, sekolah-sekolah Islam, pesantren-pesantren, oranganisasi-oranganisasi Islam, tetapi perubahan yang nyata dalam masyarakat belum nampak lagi. Banyak pejabat, pebisnis, tokoh dan anggota masyarakat yang rajin datang ke pengajian, mengerjakan sholat, haji, pergi umroh setiap tahun, tetapi masih membuat kejahatan lahir batin seperti : korupsi, membohong, menipu, tidak disiplin, sombong, pemarah, hasad dengki, bakhil, ego dan lain-lain.
Dalam ayat di atas Allah menyebut bahwa pendidikan yang dapat memberi kesan tidak cukup hanya dengan ilmu saja, tetapi memerlukan hikmah
Apakah yang disebut hikmah itu ?
Rasulullah SAW bersabda :
“Barang siapa yang diberi ilmu hikmah dia diberi sesuatu yang banyak”
Banyak orang yang menterjemahkan hikmah itu dengan bijaksana, tetapi sebenarnya bukan itu maksudnya, sebab dalam bahasa arab bikjaksana artinya lain. Sebab yang disebut bijaksana itu adalah Fatonah, yaitu bijaksana pada para Rasul Allah. Atau abqoriah.
Tetapi yang dimaksud dengan hikmah di sini ialah ilmu di dalam ilmu. Ilmu yang tidak terdapat di dalam kitab. Artinya orang yang diberi hikmah itu diberi faham oleh Allah sehingga dia faham jalan fikiran, hati, roh, atau batin orang. Dia faham hal-hal rohani, nafsu, roh, dan akal manusia. Artinya orang yang mendapat ilmu hikmah ini, dia diberi ilmu dan kefahaman oleh Allah secara langsung melalui ilham.
Dalam ayat lain Allah berfirman :
“Bertaqwalah kamu kepada Allah, niscaya Allah akan mengajar kamu ilmu”
Inilah ilmu hikmah atau kefahaman yang Allah beri secara langsung ke dalam hati kita. Artinya setelah ada ilmu yang asas, dia diberi ilmu dan kefahaman lain oleh Allah. Ilmu asas mesti ada. Jadi kalau ingin berdakwah atau mendidik orang secara berkesan, para pendakwah dan guru mesti ada ilmu hikmah. Ilmu hikmah hanya Allah beri kepada orang yang bertaqwa.
Karena tidak berhikmah, maka dia tidak akan dapat faham jalan fikiran, hati, roh, akal, perasaan atau batin orang, sehingga sasaran dakwah dan murid-murid susah untuk berubah menuju kepada kebaikan.
Apakah itu taqwa?
Taqwa bukan sekadar telah mengucapkan 2 kalimah syahadah, sholat, zakat, puasa dan haji saja. Taqwa adalah himpunan sifat-sifat baik yang ada dalam diri manusia, baik terhadap Allah maupun terhadap sesama makhluk yang dibuat semata-mata untuk mencari redha dan kasih sayang Allah.
Diantara sifat baik terhadap Allah adalah : rasa bertuhan yang tajam, rasa cinta, takut, rindu, tawakkal, mengharap dengan Allah, rasa di awasi, diperhati oleh Allah, melaksanakan semua yang diperintah dan dianjurkan oleh Allah dan meninggalkan semua yang dilarang dan dibenci oleh Allah, semata-mata untuk mencari redha dan kasih sayang Allah. Diantara sifat baik terhadap sesama makhluk dan manusia adalah : pemurah, kasih sayang, bertoleransi, tolong menolong, pemaaf, sabar dan lain-lain yang semuanya dibuat semata-mata untuk mencari redha dan kasih sayang Allah.
Diantara ciri-ciri guru, pendidik dan pendakwah yang bertaqwa adalah seperti berikut :
Hati mereka senantiasa bersama Allah, sehingga mereka takut, cinta, rindu, sensitif dan sangat membesarkan Allah
Ibadah fardhu dan sunatnya kemas dan banyak.
Akhlak mereka baik, boleh menawan hati orang lain seperti pemurah, tawadhuk, pemaaf, penyayang, bertolak-ansur, menghormati tetamu dan lain-lain lagi.
Ukhuwah dan kasih sayang antara mereka begitu erat dan kukuh.
Hukum Allah sangat mereka jaga, lebih dari rakyat jelata atau murid sehingga pribadi mereka menjadi contoh. Mereka sangat menjauhi larangan Allah yang haram dan makruh.
Berdakwah dan mengajar dengan kasih sayang sekalipun terhadap orang kafir.
Mereka hidup zuhud, tidak mengambil kepentingan peribadi dari dakwah dan pekerjaan mereka. Mereka tidak menjadikan dakwah dan mengajara itu sebagai sumber penghasilan. Bahkan harta mereka sendiri dikorbankan untuk kepentingan umat dan murid. Mereka hidup berdikari.
Mereka sangat memberi layanan kepada umat dan murid dan menyelesaikan masalah umat, murid, pengikut dan penyokong-penyokongnya.
Jemaah atau sekolah mereka gagah dan menjadi model atau bayangan kepada masyarakat.
2. MAUIZATUL HASANAH
Mauizatul hasanah artinya nasehat yang baik. Artinya dalam berdakwah menyeru masyarakat kepada Allah atau dalam mendidik anak-anak murid, guru, pendidik dan pendakwah hendaknya memberi nasehat yang baik dengan memberi khabar gembira atau tabsyir. Misalnya dengan menceritakan indahnya hidup bersama Allah, indahnya ganjaran yang akan Allah beri di akhirat, pertolongan yang Allah beri kepada orang-orang yang bersunggug-sungguh menuju Allah dan sebagainya. Ajak pendengar atau murid-murid berfikir tentang kebesaran ALLAH, kuasa ALLAH, kehebatan ALLAH, kebaikan ALLAH, rahmat ALLAH serta nikmat-Nya. Ini akan mendidik jiwa tauhid agar tumbuh rasa kehambaan yang tinggi terhadap ALLAH SWT.
Termasuk memberi nasehat yang baik adalah dengan menceritakan tanzir atau cerita-cerita yang menakutkan, misalnya menceritakan tentang Neraka dan azab ALLAH, serta ancaman-ancaman dan kemurkaan ALLAH bagi orang yang durhaka kepada Allah. Selain itu, termasuk memberi nasehat yang baik adalah menceritakan sejarah hidup para nabi, rasul dan orang-orang soleh. Cerita-cerita itu bermaksud untuk mendorong manusia agar melakukan amal soleh dan berakhlak mulia serta menjadi panduan kepada manusia, bagaimana mereka harus menjalani hidup sebenarnya.
Supaya manusia menghindari sifat-sifat jahat dan agar selamat dari pada api Neraka, maka para pendakwah dan guru menceritakan perihal orang-orang jahat atau musuh ALLAH seperti Firaun, Namrud, Qarun, Haman dan lain-lain. Semuanya ini untuk dapat dijadikan iktibar dan pengajaran oleh para pendengar dan anak-anak murid.
3. BIL AHSAN
Dalam masyarakat ada berbagai golongan orang, ada golongan awam, ada golongan cerdik pandai, intelek, pemimpin, dan ulama. Terhadap golongan yang bukan awam ini para pendakwah mesti menggunakan kaedah “bil ahsan”.
Artinya dengan cerdik pandai, intelek, pemimpin, ulama dan lain-lain, hendaklah para guru dan pendidik masyarakat berbincang dengan sebaik-baiknya, yaitu : bahasa mesti baik, bertutur kata mesti tersusun, kata-katanya keluar dari hati yang dihayati, dijiwai dan sudah ada kesungguhan untuk mengamalkan apa yang dikatakan.
Para pendidik juga mesti ada ilmu yang luas walau secara umum dan serba sedikit yang mencakup ilmu pendidikan, politik, ekonomi, sosiology, sejarah, kebudayaan dan sebagainya. Tanpa alat-alat yang cukup ini, dakwah dan pendidikan kita tidak akan berkesan dan tidak mendorong masyarakat atau anak-anak didik untuk baiki diri. Tidak mendorong orang bukan Islam untuk masuk ke dalam Islam, karena mereka tidak melihat dan merasakan keindahan dan kecantikan Islam yang dibawa oleh para pendakwah dan pendidik masyarakat. Itu alat-alat yang bersifat maknawiyah.
Selain itu yang dimaksud dengan bil ahsan adalah dengan menggunakan alat-alat yang berbentuk material, teknologi canggih dan fisik seperti persembahan nasyid, sajak, drama dan macam-macam alat modern lainnya. Bila alat-alat ini kurang atau tidak ada sama sekali, maka hasilnya orang akan jemu sehingga pesan dakwah tidak sampai, atau berdaakwah dengan mengumpat, memaki atau menjatuhkan orang, sebab bahan-bahan dan alat-alat dakwah tidak cukup.
Para sahabat dahulu berdakwah pergi ke Cina hanya 2-3 orang saja, tetapi dalam waktu yang singkat, belum lagi para sahabat faham berbahasa Cina, sudah berbondong-bondong rakyat Cina masuk Islam. Apa rahasianya? Para sahabat memiliki 3 kekuatan utama yaitu
1. rasa bertuhan dan rasa kehambaan yg tajam,
2. sikap dan akhlak mulia
3. ilmu dan hikmah
Para pendakwah sekarang lain, sudah 30 tahun berdakwah, tidak seorangpun masuk islam. Kalau umat tidak sholat, setelah didakwahi tetap tidak sholat juga, sebab para pendakwah tidak berdakwah dengan hikmah, mauizatil hasanah dan ahsan. Kadang-kadang berdakwah hasilnya lebih banyak kerusakan dari pada kebaikan, lahir golongan militan, sebab tidak ada hikmah, mauizatil hasanah dan ahsan. Akhirnya seluruh dunia Islam terancam.
Sebab itu dikatakan, siapa yang sungguh-sungguh mengetahui ilmu Qur’an, maka dia akan tahu ilmu dunia dan ilmu akhirat. Ilmu akhirat berkaitan dengan syariat, tasawuf, tauhid dan ilmu dunia seperti ilmu politik, kemasyarakatan, psikologi, kebudayaan, sejarah, pendidikan dan lain-lain. Yang jadi masalah, para pendakwah kita kebanyakan tidak memiliki ilmu-ilmu itu, padahal sekarang kita banyak berhadapan dengan golongan cerdik pandai dan intelek. Anehnya orang yang mengaji Qur’an hanya tahu ilmu syariat, tauhid atau tasawuf saja, sedangkan ilmu sejarah, ilmu ekonomi, ilmu kebudayaan, ilmu politik, ilmu sosial ada dalam Qur’an. Dia tidak tahu karena kebanyakan guru-guru yang mengajarpun tidak faham ilmu-ilmu tersebut
Tags: , , , , , , , , ,

Jumat, 21 November 2008

ILMU YANG MEMBAWA MANFAAT


6 Syarat Mendapatkan Ilmu
Imam Syafi’i menyebutkan dalam kitab Diwan Imam Syafi’i, dalam bab qafiyah nuun (syi’ir yang berakhiran huruf nun) 6 syarat yang harus dipenuhi agar bisa mendapatkan ilmu, yaitu Kecerdasan, semangat, sabar dan pakai ongkos (biaya) Petunjuk (bimbingan) guru dan dalam tempo waktu yang lama
1. Dzaka’ (kecerdasan).
Kecerdasan ada dua macam. Pertama: pemberian dari Allah swt (minhah) dan kedua: muktasab, dalam arti seseorang bisa menumbuh kembangkan dan mengupayakannya.
Sering-sering membaca buku, malu kita kalau tidak rajin membaca buku, jangan sampai kita terkena ejekan ummatu IQRA’ LA TAQRA’ (ummat yang wahyu pertamanya berbunyi IQRA‘ kok malah tidak MEMBACA).
Sering-seringlah menuliskan apa-apa yang anda baca, anda dengar dan anda saksikan. Belajarlah merapikan ide-ide dan pengetahuan anda. Tuangkanlah segala gagasan anda dalam bentuk tulisan. Ingatlah bahwa wahyu kedua yang turun kepada nabi Muhammad saw adalah surat AL QALAM (pena), sebagaimana pendapat yang paling kuat yang dipegang para ulama’. Dalam surat ini Allah swt bersumpah dengan AL QALAM dan APA YANG DITULISKAN OLEHNYA.
Biasakanlah mengikuti dan melakukan diskusi-diskusi ilmiyah, ya … ilmiyah, bukan diskusi penuh emosi, adu otot, debat kusir dan semacamnya, akan tetapi , sekali lagi, diskusi ilmiyah.
Ajarkanlah apa-apa yang telah anda ketahui kepada orang lain. Atau istilah para ulama’: tunaikanlah zakat ilmu anda, sebab, dengan zakat ilmu ini, ilmu anda akan bersih (thahir) dan semakin tumbuh dan berkembang dengan lebih baik (tazkiyah).
Kalau istilah guru kampung saya, ilmu itu ibarat api (sebenarnya yang lebih pas sih cahaya, nur, tapi nggak mengapa-lah), bila kita mempunyai api, lalu ada orang lain datang membawa kayu, dan ia meminta api kepada kita, maka api itu akan semakin besar dan semakin banyak.
2. Hirsh (semangat).
Menurut saya, hirsh itu adalah hasil dari kesadaran, kesadaran akan kelemahan dirinya dalam ilmu pengetahuan, kesadaran bahwa dirinya mempunyai potensi untuk mendapatkan ilmu, kesadaran bahwa thalabul ‘ilmi itu faridhah, kesadaran bahwa dirinya –sebagai da’i- mesti dan harus berbekal ilmu dan kesadaran bahwa dirinya termasuk dalam kategori orang-orang yang la yadri lakinnahu yadri annahu la yadri (tidak tahu, tetapi tahu bahwa dirinya tidak tahu),bukan orang-orang yang la yadri wala yadri annahu la yadri (tidak tahu, dan ia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu), sebagaimana yang diungkapkan Imam Ghazali dalam kitab Ihya’-nya.
Saudara dan saudariku yang dimulyakan Allah swt … Sebagai kader da’wah, kita tidak boleh kehilangan hirsh ini, jangan sampai kita datang ke majlis ta’lim untuk sekedar memenuhi buku kehadiran, atau karena pertimbangan daripada, daripada…kita harus datang ke majalisul ‘ilmu karena sifat hirsh kita, dan dalam rangka memenuhi faridhah islamiyyah.
3. Ishthibar (penuh kesabaran).
Ilmu adalah kesabaran, jangan banyak keluh kesah, jangan terburu-buru, dan jangan frustasi.
4. Bulghah (biaya, ongkos).
Berbagai acara ta’lim yang sangat murah, bahkan gratis, artinya, persyaratan ini telah banyak dipangkas olehnya, karenanya, jangan kehilangan persyaratan lainnya.
5. Irsyadu Ustadz (petunjuk dan bimbingan guru).
Menghidupkan kembali apa-apa yang ada pada salafush-saleh. Diantara yang ada pada mereka adalah adanya model-model QARA-A ‘ALA (membaca kitab/ilmu dihadapan … ), SAMI-’A MIN (mendengar pembacaan kitab/ilmu dari …), AKHADZA ‘AN (mengambil dalam arti mendapatkan kitab/ilmu dari …), HASHALAL IJAZATA MIN (mendapatkan ijazah atau ijin untuk mengajarkan kitab/ilmu dari …) dan seterusnya. Karenanya, kita semua harus menghidupkan kembali sunnah (jalan, dan metode) ini, sebab, salah satu tolok ukur ke-orisinil-an sebuah ‘ilmu adalah diambil dari mana (siapa gurunya) dan siapa saja yang belajar kepadanya.
6. Thulu Zaman (dalam jangka waktu yang panjang).
Janganlah mengandalkan hal-hal yang serba KILAT, kursus kilat, belajar cepat, dan semacamnya. Ingat, Rasulullah saw menerima Al Qur’an bukan dalam tempo cepat, padahal beliau adalah orang Arab, dari suku yang paling fasih bahasanya, dan beliau sangatlah cerdas dan masih banyak lagi kelebihan beliau, namun, beliau menerima Al Qur’an itu dalam tempo lebih dari dua puluh dua tahun (22 tahun lebih).
Dan akhirnya, semoga Allah swt senantiasa menambahkan ilmu kepada kita dan menjadikan semua ilmu kita itu bermanfa’at fid-diini wad-dun-ya wal akhirah, amiiin.
Oleh : Musyaffa’ Ahmad Rahimsumber : keadilan.or.id

ADAB PENUNTUT ILMU
Menuntut ilmu adalah satu keharusan bagi kita kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, para penuntut ilmu dan yang mengajarkannya.Adab-adab dalam menuntut ilmu yang harus kita ketahui agar ilmu yang kita tuntut berfaidah bagi kita dan orang yang ada di sekitar kita sangatlah banyak. Adab-adab tersebut di antaranya adalah:
1. Ikhlas karena Allah Hendaknya niat kita dalam menuntut ilmu adalah kerena Allah I dan untuk negeri akhirat. Apabila seseorang menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan gelar agar bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi atau ingin menjadi orang yang terpandang atau niat yang sejenisnya, maka Rasulullah e telah memberi peringatan tentang hal ini dalam sabdanya e :"Barangsiapa yang menuntut ilmu yang pelajari hanya karena Allah I sedang ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan mata-benda dunia, ia tidak akan mendapatkan bau sorga pada hari kiamat".( HR: Ahmad, Abu,Daud dan Ibnu MajahTetapi kalau ada orang yang mengatakan bahwa saya ingin mendapatkan syahadah (MA atau Doktor, misalnya ) bukan karena ingin mendapatkan dunia, tetapi karena sudah menjadi peraturan yang tidak tertulis kalau seseorang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi, segala ucapannya menjadi lebih didengarkan orang dalam menyampaikan ilmu atau dalam mengajar. Niat ini - insya Allah - termasuk niat yang benar.
2.Untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain.Semua manusia pada mulanya adalah bodoh. Kita berniat untuk meng-hilangkan kebodohan dari diri kita, setelah kita menjadi orang yang memiliki ilmu kita harus mengajarkannya kepada orang lain untuk menghilang kebodohan dari diri mereka, dan tentu saja mengajarkan kepada orang lain itu dengan berbagai cara agar orang lain dapat mengambil faidah dari ilmu kita.Apakah disyaratkan untuk memberi mamfaat pada orang lain itu kita duduk dimasjid dan mengadakan satu pengajian ataukah kita memberi mamfa'at pada orang lain dengan ilmu itu pada setiap saat? Jawaban yang benar adalah yang kedua; karena Rasulullah e bersabda :"Sampaikanlah dariku walupun cuma satu ayat (HR: Bukhari)Imam Ahmad berkata: Ilmu itu tidak ada bandingannya apabila niatnya benar. Para muridnya bertanya: Bagaimanakah yang demikian itu? Beliau menjawab: ia berniat menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.
3. Berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari'at.Sudah menjadi keharusan bagi para penuntut ilmu berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari'at. Karena kedudukan syari'at sama dengan pedang kalau tidak ada seseorang yang menggunakannya ia tidak berarti apa-apa. Penuntut ilmu harus membela agamanya dari hal-hal yang menyimpang dari agama (bid'ah), sebagaimana tuntunan yang diajarkan Rasulullah e. Hal ini tidak ada yang bisa melakukannya kecuali orang yang memiliki ilmu yang benar, sesuai petunjuk Al-Qor'an dan As-Sunnah.
4. Lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat.Apabila ada perbedaan pendapat, hendaknya penuntut ilmu menerima perbedaan itu dengan lapang dada selama perbedaan itu pada persoalaan ijtihad, bukan persoalaan aqidah, karena persoalaan aqidah adalah masalah yang tidak ada perbedaan pendapat di kalangan salaf. Berbeda dalam masalah ijtihad, perbedaan pendapat telah ada sejak zaman shahabat, bahkan pada masa Rasulullah e masih hidup. Karena itu jangan sampai kita menghina atau menjelekkan orang lain yang kebetulan berbeda pandapat dengan kita.
5. Mengamalkan ilmu yang telah didapatkan.Termasuk adab yang tepenting bagi para penuntut ilmu adalah mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, karena amal adalah buah dari ilmu, baik itu aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Karena orang yang telah memiliki ilmu adalah seperti orang memiliki senjata. Ilmu atau senjata (pedang) tidak akan ada gunanya kecuali diamalkan (digunakan).
6. Menghormati para ulama dan memuliakan mereka.Penuntut ilmu harus selalu lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama. Jangan sampai ia mengumpat atau mencela ulama yang kebetulan keliru di dalam memutuskan suatu masalah. Mengumpat orang biasa saja sudah termasuk dosa besar apalagi kalau orang itu adalah seorang ulama.
7. Mencari kebenaran dan sabarTermasuk adab yang paling penting bagi kita sebagai seorang penuntut ilmu adalah mencari kebenaran dari ilmu yang telah didapatkan. Mencari kebenaran dari berita berita yang sampai kepada kita yang menjadi sumber hukum. Ketika sampai kepada kita sebuah hadits misalnya, kita harus meneliti lebih dahulu tentang keshahihan hadits tersebut. Kalau sudah kita temukan bukti bahwa hadits itu adalah shahih, kita berusaha lagi mencari makna (pengertian ) dari hadits tersebut. Dalam mencari kebenaran ini kita harus sabar, jangan tergesa-gasa, jangan cepat merasa bosan atau keluh kesah. Jangan sampai kita mempelajari satu pelajaran setengah-setengah, belajar satu kitab sebentar lalu ganti lagi dengan kitab yang lain. Kalau seperti itu kita tidak akan mendapatkan apa dari yang kita tuntut.Di samping itu, mencari kebenaran dalam ilmu sangat penting karena sesungguhnya pembawa berita terkadang punya maksud yang tidak benar, atau barangkali dia tidak bermaksud jahat namun dia keliru dalam memahami sebuah dalil.Wallahu 'Alam.Dikutip dari " Kitabul ilmi" Syaikh Muhammad bin Shalih Al'Utsaimin.(Abu Luthfi)
http://artikel.aldohas.com

Jumat, 14 November 2008

Menolak Relativisme “Iman” dan “Kufur”

Tuesday, 05 August 2008 13:25
Paham relativ melahirkan ‘isme’ baru yang disebut dengan “bingungisme”. Paham seperti ini sudah tak mampu membedakan mana haq dan mana bathil
Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi *
Konsep aqidah dalam Islam –Al-Quran dan sunnah—dijelaskan oleh Allah s.w.t. dan Nabi Muhammad s.a.w. dengan sangat detail. Maka istilah ‘iman-kufur’ bukan terminologi relatif. Ia merupakan istilah “final”, tidak bisa dikutak-katik lagi. Keduanya selalu vis-a-vis, laiknya terma-terma yang lain, semisal: haq-batil, thayyib-khabits, dsb.
Oleh karenanya, isu-isu keagamaan yang berkaitan dengan konsep ini sangat mudah untuk diidentifikasi dan dihukumi. Kasus Ahmadiyah, misalnya, sebenarnya tidak ada seorangpun yang meragukan letak “benar-salah”nya. Oleh karenanya, kaum liberal-sekular yang mengusung konsep “relativisme” salah besar ketika menyatakan bahwa Ahmadiyah itu dalam Islam. Karena lewat timbangan Al-Quran-Sunnah saja sudah ‘tidak lulus’. Pada gilirannya, mereka sama sesatnya. Karena ‘man tasyabbaha biqawmin fahuwa minhum’.
Kaum liberal, sangat lihai dalam memanipulasi ayat-ayat yang menurut mereka mendukung konsep pemikirannya. Misalnya, Qs. Al-Baqarah [2]: 256 selalu dijadikan bamper oleh mereka. Kata ‘laa ikraaha fi al-diin’, senantiasa dijadikan entry-point untuk menusukkan ‘jarum’ relativisme ini. Di sini mereka ingin menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Karena agama itu sama, sama-sama benar. Ia ibarat “jari-jari”: banyak tapi menuju satu titik –tengah—yang satu (Allah). Bahkan ada yang menyatakan bahwa perbedaan agama itu letaknya pada tatara eksoteris saja. Pada tataran esoteris’nya semua agama adalah sama.
Jika dilihat secara kritis, kata ‘laa ikraaha’ sebenarnya seperti yang dikatakan oleh Imam al-Harali, seperti yang dikutip oleh al-Biqa’i, bahwa di sana ada “pemaksaan halus” (al-ikraah al-khafiy). (Lihat, Imam Burhan al-Din Abu al-Hasan Ibrahim ibn ‘Umar al-Biqa’i (w. 885 H), Nazhm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar, Beirut-Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. 1995), I: 500). Kenapa? Bukan karena agama itu sama-sama benar, tapi karena “kebenaran dan kesesatan” telah jelas (qad tabayyana al-rusyd min al-ghayy). Ini adalah sindiran dari Allah s.w.t.
Iman-kufur dalam Islam jelas konsekuensinya, tidak kabur. Karena jika ada iman, maka akan ada kufur. Jika ada kebenaran maka ada kesesatan. Tidak mungkin semua agama itu “benar” atau seluruhnya “salah”. Ini justru merancukan konsep agama dan ajarannya. Dengan sangat gamblang, Allah s.w.t. menjelaskan bahwa siapa yang secara “lapang dada” kufur (menjadi kafir), maka ia akan mendapat murka Allah dan mendapat azab yang pedih (Qs. Al-Nahl [16]: 106). Mereka itulah yang menurut Allah: (1) lebih mencintai dunia daripada akhirat; (2) dikunci hati, pendengaran dan penglihatannya, sehingga menjadi lalai (ghafil); (3) dan di akhirat merugi (Qs. Al-Nahl [16]: 107-109). Jika kekufuran itu “relatif”, maka Allah akan menjadikan konsekuensinya juga “relatif”, tidak mutlak seperti yang kita lihat di atas.
Masalah “iman-kufur” tidak sesederhana yang dikemukakan oleh kaum Sepilis (penganut sekularisme, pluralisme dan liberalisme, red). Apa yang mereka kemukakan adalah ‘kulit-kulit’ konsep iman. Maka wajar jika hasilnya relatif. Maka ketika ada zikir ‘Anjinghu Akbar’, dalam pandangan mereka tidak bermasalah. Karena itu adalah lisan, bukan hati, katanya. Bisa jadi hatinya penuh dengan keimanan kepada Allah s.w.t.
Ini bisa dibalikkan dengan: bagaimana jika hati pengucapnya penuh dengan ‘Anjinghu Akbar’? Karena menurut Imam al-Biqa’i –ketika menjelaskan surat al-Nahl di atas—, hakikat iman-kufur itu berkaitan dengan hati, bukan lisan. Lisan hanya sekadar pengekspresi (mu’abbir) dan penerjemah serta pengenal (tarjuman mu’arrif) apa yang ada dalam hati...(Ibid., II: 314). Nah, jika yang keluar dari lisan itu bersih, indikasi bahwa hati itu bersih. Sebaliknya, jika setiap yang keluar dari lisan itu adalah kata-kata keji, kotor, hujatan, ini mengindikasikan bahwa sang hati ketika itu sedang ‘sakit kronis’.
Maka, fenomena munculnya aliran-aliran sesat di Indonesia tidak harus melahirkan perdebatan panjang di kalangan umat Islam. Karena masalahnya jelas, masalah aqidah. Dan aqidah timbangannya adalah Al-Quran-Sunnah.
Salamullah Lia Eden; Ahmadiyah –baik Qadyaniyah maupun Lahore—; al-Qiyadah al-Islamiyah Ahmad Moshaddeq, dsb adalah aliran-aliran sesat. Dan kesesatan ini adalah fixed price, tidak mungkin ditawar lagi apalagi direlatifkan. Kenapa? Karena jelas bertentangan dengan Al-Quran-Sunnah. Dan pada gilirannya, relativisme ini melahirkan ‘isme’ baru yang disebut dengan “bingungisme”. Sehingga kaum Sepilis yang menyatakan bahwa semua agama itu benar sebenarnya terjebak oleh self-relativism mereka sendiri. Bukankah ini membingungkan? www.hidayatullah.com
* Penulis adalah staf pengajar di PP. Ar-Raudhatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara. Peminat dan intens dalam Qur’anic-Hadith Studies & Christology. Sekarang sedang mengikuti Program Kaderisasi Ulama (PKU) di Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS) di Institut Studi Islam Darussalam, Gontor-Ponorogo, Jawa Timur

Lupa Sarapan Dapat Mempengaruhi Atrofi Otak Anak


Otak besar seorang anak yang sedang berkembang mungkin akan mengalami penyusutan (atrofi), jika dia sering tidak sarapan

Hidayatullah.com--Apabila seorang anak sering tidak sarapan, maka otak besarnya yang sedang berkembang mungkin akan mengalami penyusutan (atrofi), sehingga mempengaruhi pertumbuhan intelegensia.
Apakah anak Anda karena harus bangun pagi bersekolah sehingga sering tidak sarapan? Menurut laporan "Lian-he Zaobao" surat kabar terbitan Singapura, apabila seorang anak di pagi hari sering tidak sarapan, maka otak besarnya yang sedang tumbuh mungkin akan mengalami atrofi, sehingga mempengaruhi pertumbuhan intelegensia.
Para peneliti bagian makanan dan gizi di Rumah Sakit Alexander telah meneliti pada rumah tangga di enam negara di Asia tentang apakah anak-anak sarapan di pagi hari, bagaimana pertumbuhan otak dan prestasi belajar mereka, alhasil ditemukan, anak didik yang tidak sarapan, selain konsentrasinya agak kurang, juga lamban dalam merespons.
Para peneliti menunjukkan, "Apabila sarapan di pagi hari terabaikan dalam jangka panjang, otak anak dapat mengalami penyusutan, meskipun di kemudian hari telah memulihkan pola makan yang sehat, bergizi cukup, namun otak yang sudah menyusut tidak dapat pulih kembali, mereka akan berubah menjadi bodoh."
Sedang para ahli Amerika juga telah melakukan penelitian terhadap anak didik, mereka yang datang ke sekolah, sebagian sarapan, sebagian lagi tidak, terungkap bahwa mereka yang tidak sarapan, responsnya terhadap angka agak lemah, sedangkan yang sarapan lebih sensitif. Teristimewa kalau jam pertama adalah pelajaran matematika, maka anak yang sarapan menunjukkan prestasi yang jauh lebih baik daripada yang tidak.
Para peneliti menunjukkan bahwa penyampaian akan pentingnya sarapan oleh para guru yang secara langsung kepada anak didik adalah yang paling efektif.
Rumah Sakit Alexander dan Lembaga Promosi Kesehatan Singapura melalui para pendidik menanamkan pengetahuan tersebut, dengan sedikit usaha yang dicurahkan ini telah memperoleh hasil yang besar.
Selain itu, penanggung jawab penelitian tersebut juga menunjukkan peran orang tua terhadap kebiasaan makan anak, "Para orang tua hendaknya menanamkan kebiasaan makan bersama de-ngan anak-anak mereka, setidaknya pada saat makan pagi atau makan malam, selain dapat menanamkan kebiasaan baik bagi anak, juga dapat mempererat hubungan antara anak dan orang tua." [renmin/erb/http://www.hidayatullah.com/]